Monday, August 10, 2020

Al Ghazali dan Kemunduran Umat

 Tentang Al Ghazali

Oleh: Jousairi Hasbullah

Tentang kemunduran Islam yg kita rasakan sampai saat ini, dalam pemahaman saya terkait dua hal utama.

Pertama, terkait penaklukan Andalusia. Inilah awal kehancuran umat. Segera setelah jatuhnya Andalus di tangan raja Ferdinand dan Isabella, Spanyol dan Portugis dg semangat Reconquistadores menghancurkan pusat2 peradaban Islam: di India, Malaka dan di berbagai tempat. Kerajaan Islam di daerah2 pantai yg kuat dalam PIKIR dan Zikir takluk. Diikuti oleh penjajahan oleh negara2 Barat lainnya. Peradaban Islam betul2 hancur.

Apa yg tersisa? Lebih ke ritual-ritual dan berbaur dg mistik, tahayul dan hal2 yg menjauhkan umat dari kemajuan peradaban.

Kedua..Kemuduran peradaban Islam tak terpisahkan dari "shifting paradigm of thought"..dan ini memang masih diberdebatkan sampai saat ini. Banyak kalangan yg berpendapat bahwa ajaran dan pemikiran keagamaan Al Ghazali lah yg mereduksi orientasi science yg telah dg perkasa diusung oleh Ibnu Sina, Alfarabi dkk dari generasi sebelum AlGhazali. Alghazali dalam karyanya Tahafut al Falasifah menyerang dan mengecam habis2an para pendahulunya tersebut yg Beliau tuding sebagai terlalalu Aristotelian. Terlalu logika dan mengesampingkan wahyu Tuhan. Tiga area besar perdebatan terutama terkait keabadian alam, Tuhan dan urusan-Nya dengan hal2 yg partikular, dan Kebangkitan jasmani setelah mati ( terlalu panjang kalau mau diuraikan di sini)

Ibnu Rusyid yg lbh condong membela ibnu Sina dan Alfarabi menyerang frontal pemikiran dalam Tahafut al Falasifahnya Ghazali dg karyanya yg sangat mentereng yaitu Tahafut al Tahafut (incoherence of the incoherence) Ibnu Rusyd menginginkan umat kembali ke pemikiran-pemikiran besar Science dan filsafat bersamaan dengan/tanpa mengabaikan hal-hal yg berdimensi teologis. Seperti yg telah diperbuat oleh AlFarabi. Tidak ada konplik antara science, fiksafat dan teologis. Ketiganya beriringan. Alfarabi seorang teolog, seorang filosof dan seorang fisikawan.

Akan tetapi pengaruh AlGhazali sudah begitu mengakar yg dianggap menafikan kekuatan Science, menapikan kekuatan akal, logika dan method scientific.
Efek penaklukan Recunquistadores dan shifting paradigm pengaruh Ghazali ini yg oleh banyak pihak dianggap sebagai sebab-sebab utama kemunduran peradaban science-nya Umat..dan jalan di tempatnya kemajuan Ilmu Pengetahuan umat Islam.
Wallohua'lam bissowab.
(Jousairi hasbullah)

Monday, July 13, 2020

Khilafah dan Kemunduran Peradaban Islam

Kemunduran Umat Islam: Why?
Oleh: Jousairi Hasbullah

Mungkinkan konsep khilafah seperti masa lalu bisa ditegakkan kembali? Dalam pandangan saya, eranya sudah sangat beda ya. Beda dengan masa2 kegemilangan khilafah di masa lalu. Mulai dari masa Khulafaur Rasyidin, sampai masa kegemilangan Otoman, kesadaran nasionalisme belum sekuat saat ini. Kesadaran akan Nation State di dunia ketiga baru muncul di awal di awal abad ke 20. Saat ini, gelombang nasionalisme itu bgt dahsyatnya..dan sangat tipis kemungkinan untuk membangkitkan kembali konsep khilafah seperti pada masa jaya nya. Kecuali, entah, kalau konsep khilafah dalam bentuk yg lain..Dalam artian tetap Nation State, tetap Pancasila..tetap NKRI. Hanya nilai-nilai Islaminya yang membentuk Khilafah. Entahlah. Semua negara termasuk Timur Tengah, Turki dan 57 Negara-negara OKI saat ini sangat menentang konsep khilafah. Mau memaksakan seperti ISIS? Pasti ujung2nya adalah kehancuran. Perang habis2an..Semua hancur. Apalagi kalau tegaknya khilafah hanya atas dasar menggerakkan emosi umat tanpa konsep sosial, ekonomi, dan pembangunan yg brilyan, operasional dan scientific. Untuk Kejayaan Islam hari ini dan ke depan: khilafah sepertinya bukan solusi. Tentang kemunduran Islam yg kita rasakan sampai saat ini, dalam pemahaman saya terkait dua hal utama. Pertama, terkait penaklukan Andalusia. Inilah awal kehancuran umat. Segera setelah jatuhnya Andalus di tangan raja Ferdinan dan Isabella, Spanyol dan Portugis dg semangat Reconquistadores menghancurkan pusat2 peradaban Islam: di India, Malaka dan di berbagai tempat. Kerajaan Islam di daerah2 pantai yg kuat dalam PIKIR dan Zikir takluk. Diikuti oleh penjajahan oleh negara2 Barat lainnya. Peradaban Islam betul2 hancur. Apa yg tersisa? Lebih ke ritual-ritual dan berbaur dg mistik, tahayul dan hal2 yg menjauhkan umat dari kemajuan peradaban. Kedua..Kemuduran peradaban Islam tak terpisahkan dari "shifting paradigm of thought"..dan ini memang masih diberdebatkan sampai saat ini. Banyak kalangan yg berpendapat bahwa ajaran dan pemikiran keagamaan Al Ghazali lah yg mereduksi orientasi science yg telah dg perkasa diusung oleh Ibnu Sina, Alfarabi dkk dari generasi sebelum AlGhazali. Alghazali dalam karyanya Tahafut al Falasifah menyerang dan mengecam habis2an para pendahulunya tersebut yg Beliau tuding sebagai terlalalu Aristotelian. Terlalu logika dan mengesampingkan wahyu Tuhan. Tiga area besar perdebatan terutama terkait keabadian alam, Tuhan dan urusan-Nya dengan hal2 yg partikular, dan Kebangkitan jasmani setelah mati ( terlalu panjang kalau mau diuraikan di sini) Ibnu Rusyid yg lbh condong membela ibnu Sina dan Alfarabi menyerang frontal pemikiran dalam Tahafut al Falasifahnya Ghazali dg karyanya yg sangat mentereng yaitu Tahafut al Tahafut (incoherence of the incoherence) Ibnu Rusyd menginginkan umat kembali ke pemikiran-pemikiran besar Science dan filsafat bersamaan dengan/tanpa mengabaikan hal-hal yg berdimensi teologis. Seperti yg telah diperbuat oleh AlFarabi. Tidak ada konplik antara science, fiksafat dan teologis. Ketiganya beriringan. Alfarabi seorang teolog, seorang filosof dan seorang fisikawan. Akan tetapi pengaruh AlGhazali sudah begitu mengakar yg dianggap menafikan kekuatan Science, menapikan kekuatan akal, logika dan method scientific. Efek penaklukan Recunquistadores dan shifting paradigm pengaruh Ghazali ini yg oleh banyak pihak dianggap sebagai sebab-sebab utama kemunduran peradaban science-nya Umat..dan jalan di tempatnya kemajuan Ilmu Pengetahuan umat Islam. Wallohua'lam bissowab. (Jousairi hasbullah)

Sunday, June 21, 2020

Menurunnya Impor Mai 2020: Warning

Menurunnya Impor Mei 2020: Warning.
Oleh: Jousairi Hasbullah

Pertengahan bulan ini, Kepala BPS mengumumkan penurunan nilai ekspor dan impor Indonesia posisi Mei 2020.

Ekspor Mei 2020 sebesar US $ 10.5 milyar menurun 13 persen dibanding April 2020 dan sebesar 28,95 persen dibanding Mei 2019. Ekspor nonmigas US$ 9,9 milyar turun sebesar 27,8 persen dibanding Mai 2019.
Melemahnya Ekspor ini karena melemahnya permintaan dari negara2 sahabat. Juga oleh terbatasnya bahan baku yg sebagian besar dari impor.

Negara-negara Asean mengurangi permintaan barang dari Indonesia sebesar 19.2 persen. Uni Eropa,15.4 persen. Jepang 20 persen. USA 15 persen. India 22 persen. Kali ini kita justru terbantu oleh China. Satu-satunya negara penting yg tidak mengurangi permintaannya terhadap barang dari Indonesia.

Impor Mai 2020 US senilai $ 8,4 milyar turun sebesar 42,2 persen dibanding Mai 2019. Impor nonmigas senilai US $7,8 milyar Mai 2020, turun sebesar 37,3 persen dibanding Mai 2019. Sebagian besar impor RI untuk bahan baku dan barang modal. Artinya kemampuan industri nasional untuk memproduksi barang tinggal sekitar separuhnya. Jika trend ini bertahan atau bahkan lebih buruk dalam beberapa bulan ke depan, ekonomi bangsa ini akan terus "terganggu" Pengangguran akan bertambah parah. Gelombang PHK diam-diam akan terus terjadi.

Saat-saat seperti ini, segala daya perlu dikerahkan. Sinergi antara pemerintah dan dunia usaha keharusan. Terobosan-terobosan brilyan untuk mencari sumber-sumber bahan baku, barang modal dan tujuan baru pasar barang dari Indonesia perlu dilakukan. Konkrit, efektip effisien dan berenergi. Saatnya menunjukkan kreatifitas yang luar biasa.

Bandung 21 Juni 2020
JSH

Monday, May 25, 2020

Impor Sayuran, Buah, Garam Dll

Impor Sayuran, Buah, Garam, Dll
Oleh: Jousairi Hasbullah

Faisal mengutip data BPS. Mencengangkan. Dia bilang. Untuk sayur saja kita impor 11.5 Trilyun rupiah. Itu data selama tahun 2019. Kurs yg digunakan Faisal mungkin ketinggian. Karena nilai dalam US $ nya sebesar US$ 770.14 juta. Tetapi bagaimanapun. Nilai itu fantastis.

Benar. Dari dulu kita sering persoalkan. Kok sayur saja harus impor dengan nilai yg sangat besar. Faisal tidak mengurai asal barang. Ini saya kasih tau. Dari nilai impor sayur yg dikutip Faisal tersebut, 76 persennya atau senilai 8.2 triyun rupiah ( tergantung kurs), diimpor dari China. Luar biasa memang. Belanja sayur dari China sampe segitunya.
Aneh lagi senilai Rp 350 milyar selama 2019 kita beli sayur dari negeri gurun Ethiopia. Senilai Rp 322 milyar beli sayur dari India.

Anda akan terpesona.
Dari data BPS yg saya kutip, impor buah-buahan tak kalah "remarkable". Dengan kurs Rp 14 ribu saja, nilai impor buah tersebut sebesar Rp 21 trilyun selama tahun 2019 ( baca lagi: 21 triyun rupiah) dan senilai 11.4 triyun diimpor dari China; Dari Thailand senilai 2 trilyun rupiah.
Belum puas? Selama tahun 2019, tembakau pun kita impor (senilai 8.1 triyun rupiah) dan China cukup dominan yaitu senilai 2,6 triyun rupiah.
Kedelai? Lebih fantastik. Sebesar 15 triyun kita keluarkan untuk belanja kedelai. Dominasinya yaitu sekitar 95 persen atau 14 triyun rupiah, impor kedelai dari Amerika.
Garam? Kita impor senilai 1,3 triyun. Sekitar 95 persennya dari Australia.
Ini Indonesia negeri subur makmur gemah ripah lohjinawi..tongkat kayu jadi tanaman kenapa begini ya. Nggak masuk akal memang.

Pak Jokowi, saya tau, sudah sangat prihatin dengan situasi ini. Tetapi kok masih terjadi? Perlu diteliti. Tangan apa dan siapa yang sangat kuat mencengkeram, agar kita terus impor. Sementara produksi petani di tanah subur ini, sangat tersendat. Perlu langkah-langkah yg sangat konkrit dan revolusioner.
JSH
Senin 25 Mai 2020.

Wednesday, May 20, 2020

Hari Tua Seorang Statistisi

Hari Tua Seorang Statistisi
Oleh: Jousairi Hasbullah.

Old Statistician Never Die.
Ramadhan hari ke 27. Tulisan ini untuk blog saya: jshcenter.blogspot.com tapi saya share juga ke sini.Siapa tau ada yg bisa dipetik.

Setelah pensiun ada yg memilih nyari kerja.Jadi dosen, karyawan tetap atau apalah. Ada yg berwirausaha. Ada pula yg memilih berkebun, melihara ternak atau apalah. Ada pula yg khusus ritual ibadah. Atau ada pula yg mengkhususkan tugasnya sebagai pengantar anak dan isteri. Semua itu pilihan. Semua pilihan itu mulia. Itulah hidup.

Saya barangkali agak outlier, agak beda. Dari sejak saya muda, saya telah mendiskusikan terkait problem of ultimacy (tentang tujuan berkarir) dan menetapkan pilihan bahwa ketika pensiun saya harus menjadi insan merdeka. Kalau masih bisa dihindarkan janganlah lagi di usia tua masih mau ngabsen/handkey, tiap hari masuk kerja.

Dari umur tigapuluhan, saya terbiasa dengan apa yg oleh para filosof aliran Aristotelenialism dikenal sebagai deferred gratification ( melakoni kesenangan yg tertunda: berpuasa kemewahan). Sekecil apa pun rezeki yg diperoleh, dikelola dengan telaten dan prihatin.Mulai investasi kecil-kecilan. Itulah syir'ah dan minhaj ( jalan dan cara) yang jadi pilihan. Saya kerja ngotot dengan cinta, tetapi saya tak pula lengah. Terus mempersiapkan masa depan dg sungguh-sungguh. Pensiun. Saya ingin menjadi manusia yg merdeka. Mandiri. Berdaulat. Adil dan agak-sedikit makmur.

Sudah dua tahun lebih saya pensiun. Cukup banyak yg nawari kerja, termasuk di lembaga internasional..Baik ketika sebelum sakit. Maupun ketika sekarang sudah lumayan sehat. Pilihan saya masih konsisten. Saya menghindari yg tiap hari harus ngabsen. Saya ingin merdeka, berdaulat dan mandiri. Pilihan saya bulat. Saya ingin terbang bebas mengangkasa bersama para bidadari. Menebas langit menembus cakrawala. Kalau mungkin, dan diizinkan-Nya, kebebasan ini mengepak jauh. Tak usah sampe di tepian langit ke tujuh (sacred canopy), tapi cukup jauh. Dengan membawa rasa cinta. Dengan napas kebebasan adalah DATA beserta segenap makna, misteri, dan kebahagiaan di dalamnya dan abadi (kholidina fiha)

Sewaktu saya masih kerja di BPS, saya bukan tenaga upahan dan buruh negara. Tidak sama sekali. Apa pun yg dulu saya kerjakan bukan karena sy disuruh-suruh sebagai buruh. Bukan, melainkan karena kesadaran dan kecintaan. Kesadaran bahwa dengan data saya mengembangkan pikiran..dengan berpikir fact-based maka saya ada ( cogitu ergo sum).

Mereka yg bekerja sebagai buruh negara, begitu pensiun semua akan dilucuti. Selesai. Seolah tanpa bekas. Saya ada di jalan yg berbeda. Bagi saya BPS adalah bidadari yg menerbangkan saya menjadi insan yg berdaulat dan berkuasa penuh atas makna-makna yg saya kenali..dan akan terus terbang. Sambil juga membawa marah😀😀. Dengan data saya akan dan bisa marah pada saya, padanya, pada dia, pada paduka dan pada siapa saja.

Setiap hari saya terus menekuni spritual dan DATA. Untuk apa? Untuk kebahagiaan hidup. Memperkaya hidup dg makna-makna. Setiap saya membaca data dan mengkonfrontirnya dengan teori yg saya pelajari dan dalami, dengan filosofi2 yg membentuknya; pikiran saya jadi cerah, hati nyaman, jiwa tenang dan damai; seakan terbang bebas di angkasa raya. Inilah hari tua yg memang dari dulu saya impikan. Manusia data yg bebas merdeka dengan cintanya.

Anda bekerja di dunia data statistics? Anda sangat mulia, sayang kalau kemuliaan itu tersia-siakan.

Note: dua hari yg lalu sy mengirim hasil perjalanan penelusuran saya dg data tentang Inggris dan Canada ke bapak Kepala BPS-RI, pak Kecuk sahabat saya. Sebagai sahabat, beliau membalas..dua hari berturut-turut Beliau mengirim saya bingkisan berupa kumpulan data..dan itu saya nikmati. Indahnya hidup dengan DATA. Walal akhiratu khoirun laka minal min al ula.

Bandung 20 Mai 2020.
Renungan Ramadhan.
Berpuasa hari ke 27.

Sunday, May 10, 2020

Kisruh Data untuk Bantuan terkait Covid19.

Kisruh Data untuk Bantuan terkait Covid19.
Oleh: Jousairi Hasbullah

Soal DATA kok jadi kisruh begini? Karena kita tau data tapi nggak paham data. Titik.

Untuk distribusi bantuan ke masyarakat bawah terkait dampak Covid19, data yg dijadikan rujukan adalah data Kemensos yg telah berkali-kali mereka verifikasi dari asalnya,data dasar hasil PBDT2015. Atau, bantuan diberikan bahkan tidak pake rujukan data.

Tulisan kecil ini sekadar info aja. Siapa tau dpt menambah pemahaman kita terkait data. Kebetulan, waktu itu sy pernah kerja di BPS. Jadi sedikit tau ikhwal data untuk Social Targetting.

Indonesia punya pendataan khusus untuk social targetting. Bantuan sosial. Untuk cash transfer ( CT ) atau yg conditional (CCT) seperti PKH dll. Sudah EMPAT kali BPS ikut membantu pemerintah menyediakan data untuk Perlindungan Sosial ( Statistik sesungguhnya tidak berurusan dengan data invidual, tapi aggregatif. Walau UNSD akhir-akhir ini cenderung dilematis)

Pertama, tahun 2005. Namanya Pendataan Sosial Ekonomi ( PSE2005). Mendata 19.1 juta Rumahtangga Sasaran ( RTS) untuk keperluan penyaluran BLT 2005. Lalu data ini diperbaharui tahun 2008 menghasilkan 18.5 juta RTS, juga untuk penyempurnaan distribusi BLT. Lalu diperbaharui lagi thn 2011, namanya PPLS ( Pendataan Program Perlindungan Sosial) menghasilkan 25.2 juta RTS untuk tujuan distribusi BLSM, KKS, KIS, KIP 2014. Mengapa datanya beda? Itu tergantung kebutuhan target sasaran oleh Pemerintah seperti program-program tersebut di atas.

Pendataan masif terakhir yang melibatkan BPS sebagai pelaksana di lapangan adalah Pendataan Basis Data Terpadu Tahun 2015 ( PBDT2015) untuk mendapatkan 40 persen, secara nasional, penduduk dg dengan sosial-ekonomi terbawah. Tiap provinsi tentu hasilnya berbeda-beda tergantung tingkat kemiskinannya. Contoh Papua. Sekitar 80 persen orang Papua masuk ke dalam basket 40 persen rumah tangga dg sosek terbawah Nasional. DKI cuma 11 persen yg masuk basket tersebut.

Pendataan BDT 2015 sangat komprehensif. Prosesnya sangat holistik-integratif. Melibatkan disiplin ilmu statistik yang rumit dan telaten, dikombinasikan dengan pengetahuan sosiologis yang cerdas-relevan-koheren sesuai situasi sosiologis masyarakat in situ. Tahapannya disebut sebagai EMIC proses. Artinya mengakomodasi pandangan In-Situ ( lokal komunitas kecil) melalui tahapan penting yang disebut Forum Konsultasi Publik (FKP).

FKP ini diikuti oleh para Kades, Kadus, Ketua RW/RT, Tomas dan Toga. Se Indonesia tersedia 25,2 juta Rumah Tangga listed  (RTS) hasil PPLS 2011 ditambah 2.8 juta ruta data program. Total ada 28 juta rumahtangga yg kemudian di verifikasi di forum FKP. Hasilnya diperoleh 24.1 juta rumahtangga verified ditambah 4.7 juta rumahtangga usulan baru dari peserta FKP. Total 28.8 juta rumah tangga.
Proses selanjutnya, adalah tahapan dengan proses statistik yg rumit berupa pendataan lapangan ( tidak ditemukan 2.6 juta rumahtangga dan ada temuan baru sebanyak 911 ribu rumah tangga). Kemudian dilakukan pengolahan data dan proses statistik yang komprehensif-precise yaitu berupa proses PMT ( Proxy Mean Test). Hasil akhir diperoleh: 25 771 493 rumah tangga atau 93 026 921 jiwa. Mereka adalah 40 persen nasional, berada di sosial ekonomi terbawah. Semua program Perlindungan Sosial yang ada mengacu ke Data ini, entah semuanya atau dengan sebagian datanya. Tergantung siapa dan seberapa besar target sasaran.

Betul. Data terakhir itu data 2015. BPS mendatanya. TNP2K yang punya data dan berkolaborasi dg masing2 pemda. Kemudian, data basenya sesuai UU, dipegang oleh Kemensos. Setiap enam bulan dimutakhirkan oleh jajaran Kemensos. Sejak thn 2015 BPS tidak lg terlibat. Dinas Sosial masing2 prov/kabupaten/kota yang memutakhirkannya. Sudah pasti melibatkan RT/RW setempat dan petugas Dinsos.
Apa yg terjadi? Wallohuaklam. Yang jelas prinsip-prinsip objektivitas statistik, cenderung tidak lagi digunakan.

Data 40 persen: Relevankah untuk RTS Bantuan Covid19?

Pandangan saya. Pertama,
Kalau verifikasi selama beberapa tahun terakhir ini yg dilakukan oleh Kemensos, maksimal, data tersebut sangat bagus. Tetapi jika prosesnya minimalis, hasilnya dipastikan justru akan mengundang masalah. Tetapi walau datanya terverifikasi dg baik sekalipun, belum tentu pas untuk dijadikan satu-satunya rujukan.

Kedua, data PBDT2015 menghasilkan batas tingkatan sosial ekonomi di level faktual-lapangan sangat "imajiner"-matematis. Pemotongan batas 40 persen terbawah dengan yang di atasnya bagi keilmuan statistik: sangat biasa dan jelas. Bagi awam kadang sangat tidak jelas. Karena mereka yang "diperbatasan"/ di garis batas, kadang tak bisa dibedakan oleh awam tapi bisa dibedakan oleh hasil hitungan, skor, statistik. Jadi kalau data yang asalnya bagus tersebut tiba2 diaplikasikan begitu saja di lapangan akan sangat riskan. Karena mereka yang berada di sekitar garis batas (yang tidak masuk dalam basket) secara kasat mata situasinya tidak berbeda dg mereka yang dalam basket 40 persen.

Ketiga, penggunaan data yang ada sekarang, itu ( kalau verifikasi oleh kemensos benar) hanya cocok untuk kondisi normal. Bukan kondisi Konjungtural. Dalam kondisi bencana tiba-tiba ( faktor konjungturnya yg lebih menonjol) jutaan orang ramai-ramai jatuh menjadi miskin. PHK besar2an, buruh dan pengusaha rumah tangga yg tiba2 kehilangan pekerjaan, maka dengan hanya mempedomani data yang ada saat ini: jelas Blunder besar dan sangat tidak cerdas.

JSH
During Stay at Home Covid19.
Bandung 10 May 2020.

Saturday, May 9, 2020

Primitif: BAB tanpa Toilet

Kultur Primitif: BAB tanpa Toilet
Oleh: Jousairi Hasbullah

Buang Air Besar (BAB) tanpa toilet atau yang secara internasional disebut, Open Defacation, mengundang masalah serius. UN mencanangkan lewat SDGs untuk menghapus tradisi buruk ini di tahun 2030.

Unicef ​​mengingatkan bahwa setiap satu gram tinja dapat mengandung seribu kista parasit, 10 juta virus, dan satu juta bakteri. Mereka yang tidak mencuci tangan dengan sabun setelah buang air besar dan sebelum makan menyebabkan 800 ribu kematian akibat diare setiap tahun. Dampak nyata lain dari tingginya angka Open Defacation ini ( BAB sembarangan): kematian bayi, stunting dan beragam problem kesehatan lainnya.

Tidak itu saja. Rumahtangga yang hidup tanpa toilet indikasi dari kultur primitif bonding, inert dan sulit berubah. Mereka sangat rawan kemiskinan dan berbagai problem keterbelakangan.

Di Indonesia, mereka yg hidup dengan :open defacation, BAB tanpa toilet, dari hasil Susenas, masih sangat memperihatinkan. Susenas 2019 masih menemukan bahwa 7.6 persen orang Indonesia BAB sembarangan. Di Aceh 16.1 persen, Sulteng 18.48 persen ( angka di Sulteng Dalam Angka, tapi Angka di Pusat 18.61 persen). Di Sulawesi Barat 16.39 persen.
Di provinsi dengan infrastruktur yg maju seperti di pulau Jawa, keadaannya juga tak kalah memperihatinkan, terutama di provinsi Jawa Timur (9.58 persen) dan provinsi Banten ( 9.16 persen).

Di zaman industri 4.0 dan di era pembangunan SDM besar-besaran saat ini, data Susenas 2019 menunjukkan bahea di provinsi maju Jawa Timur yaitu di Kabupaten Bondowoso masih 37.6 persen BAB tanpa toilet. Di Situbondo 36.1 persen, di Jember 28.1 persen. Di kabupaten Probolinggo sebesar 27.5 persen.
Di Provinsi Banten, kabupaten Lebak 27.1 persen, Pandeglang 25.0 persen, bahkan di kabupaten Serang sebesar 15.0 persen. Open defacation di kebun, di tanah lapang, di hakaman dan temoat lainnya, tanpa toilet.
Kabupaten Luar Jawa, yg masih sangat tinggi angka open defacationnya antara lain kabupaten Mamuju di Sulbar 28.0 persen dan di Sulteng di kabupaten Donggala sebesar 31.6 p dan Parigi Moutong sebesar 32.6 persen ( BPS, Susenas 2019)

Kemana para Gubernur, Bupati dan tokoh-tokoh masyarakat sipil setempat? Mengapa masih membiarkan terus bertahannya kultur primitif yang sangat membahayakan kelangsungan hidup suatu generasi. Hidup dengan kultur yg jorok dan berbahaya. Ironisnya ketidakwajaran ini terjadi di daerah-daerah yg secara religius: terkenal taat dan kuat.
Note: ketika saya masih menjabat Kepala BPS Jatim di tahun 2014, berapa kali fakta Open Defacation (BAB sembarangan) di Bondowoso, Situbondo, Jember dan Probolinggo ini saya sampaikan ke Gubernur Jatim. Beliau responsif. Saya dengar Beliau sudah berupaya tapi ternyata hasilnya belum optimal..Ini perlu langkah nyata dan terus menerus. Tidak mudah. Masalahnya bukan karena keberadaan toilet tetapi lebih ke masalah kultur yg penanganannya perlu sangat komprehensif.

JSH
Bandung May 2020
In the time of Covid19 stay at home.

Open Defacation: Primitive Culture

Open Defacation: Primitive Culture
By: Jousairi Hasbullah

Open defecation is the people'traditional habit of defecating outside, in the open environment, rather than using a toilet. They have no toilet even for some, still no need toilet.

SDGs goal 6 mentions priority for clean water and sanitation. It requires all people access to sanitation and hygiene, and ending to open defecation. What is open defacation? That is when people defecate with no toilet, in the open such as in the bushes, rivers, in the fields, forest related.

Based on the goals mentioned, UN and member countries are committed to end open defecation by 2030. This was also declared on the occasion of World Toilet Day, which is marked annually on 19 November 2019.

People defacates on the fields, bushes, forests, ditches, streets, canals or other open space. They do so because either they do not have a toilet readily accessible or due to a traditional cultural practices.

The current estimate 2019 of around 673 million people practise open defecation.This figure already decrease from of about 892 million people, or 12 percent of the global population, who practiced open defecation in 2016.In that year, seventy-six percent (678 million) of the 892 million people practicing open defecation in the world live in
UN estimated of around 673 million people in the world practicing open defacation, 91 percent lived in rural areas. The most practicing open defacation are those countries such as Sounthern Asia: espicially India, Southeast Asia: Indonesia and Cambodia, and Sub Sahara Africa.

Open defecation is a serious problem. Unicef mentioned that every one gram of faeces can contain one thousand parasite cysts, 10 million viruses and one million bacteria. Those who are not handwashing with soap after defacation and before eating caused 800 thousands death from diarrhoea annually.

Open defecation can pollute the environment and cause health problems. High levels of open defecation are linked to high child mortality, poor nutrition, poverty, and large disparities between rich and poor.

In Indonesia, number of those who live with: open defacation, defecation without toilet, are still very high. Still 7.6 percent of Indonesians defecate carelessly.

In Aceh 16.1 percent, Central Sulawesi 18.48 percent (the figure in Central Sulawesi in Figures, but the Central Figures 18.61 percent). In West Sulawesi 16.39 percent. In provinces with advanced infrastructure on Java, the situation is also alarming, especially in East Java (9.58 percent) and Banten (9.16 percent). In the industrial age 4.0 and the era of massive human resource development at present, people in developed provinces in Bondowoso Regency are still 37.6 percent of those who defecate without toilet. In Situbondo 36.1 percent, in Jember 28.1 percent. In Probolinggo district it is 27.5 percent. In Banten Province, Lebak regency was 27.1 percent, Pandeglang was 25.0 percent, even in Serang district was 15.0 percent. Open defacation in the garden, in the field, in Hakaman and other places, without toilet. Outside Java, which has very high open deflation rates include Mamuju regency in West Sulawesi 28.0 percent and Central Sulawesi in Donggala district with 31.6 p and Parigi Moutong 32.6 percent.

Where are the Governors, Regents and local civil society leaders. Why do you let the survival of primitive culture which is very dangerous to the survival of a generation. Living with a dirty and dangerous culture. Ironically this irregularity occurs in areas that are religiously known to be obedient and strong.

Note: when I was head of the East Java BPS, many times did the Bondowoso, Situbondo, Jember and Probolinggo issues mentioned to the East Java Governor. I heard that they have tried but the results have not been optimal ... it needs concrete steps and it is a must..

JSH
Bandung May 2020
In the time of Covid19 stay at home.

Friday, May 8, 2020

Transendental dan Imanen

TRANSENDENTAL dan IMANEN
Oleh: Jousairi Hasbullah

Sering sekali dalam suatu tulisan kita membaca dan atau di seminar mendengar kata transendental dan imanen. Dalam bulan Ramadhan yang penuh getaran, kenikmatan dan keindahan ini tentu relevan untuk sedikit mengulas tentang kedua istilah tersebut.

Para filsuf yang menjelaskan tentang Tuhan yang transenden dimulai dari Pythagoras, Plato dan Philo Judaeus. Tuhan yang transenden memiliki sifat yang berbeda dengan Tuhan yang imanen.

Ketika mengalami yang transenden, manusia bersentuhan dengan perasaan yang unique. Di satu sisi, merasa sangat tertarik karena pesona fascinosum, tetapi di sisi lain ia merasakan gemetar dan ketakutan karena yang transenden itu tremendum (memaksa/mengancam). Dalam istilah lain sesuatu yang transendental adalah sesuatu yang tremendum et fascinans ( menggetarkan dan menakjubkan dan di luar kemampuan akal manusia).

Mereka yang mengalami proses transenden itu, seperti para sufi. Manusia akan lupa dirinya. Hanyut dengan yang transenden dan menikmati perjumpaan dengan sang khalik.

Tuhan itu transenden. Artinya Tuhan itu melampaui dunia ini. Tetapi sekaligus berada dalam realitas dunia ini yang disebut immanen.Tuhan ada di dunia ini sekaligus melampaui dunia ini: transenden dan immanen.

Dengan keterangan ini jelas bahwa Tuhan tidak bisa kita pikirkan atau bayangkan sosoknya. Tuhan berada di luar kemampuan akal, walau bisa dirasakan keberadaannya. Ingin lebih dekat dengan-Nya..mari kita mengasah rasa. Karena hanya rasa yg membangun keyakinan ( iman) dan bersentuhan dengan realitas yang imanen.

Ingin mengenal Alloh yang Immanen? Kenali dirimu. Rasulullah bersabda “Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya.” Jalaluddin Rumi, yang terkenal dengan puisi-puisi sufistiknya menyusun buku berjudul: Yang Mengenal Dirinya, Mengenal Tuhannya, yang berisi aforisme-aforisme ( prinsip or kebenaran yg sudah diterima oleh umum) sufistik. Luar biasa indahnya dan sangat dalam maknanya. Buku ini merupakan salah satu magnum opus  (masterpiece/Adi Karya) tokoh ini. Buku Yang Mengenal Dirinya, Mengenal Tuhannya, yang dalam bahasa Arabnya berjudul Fîhi ma Fîhi adalah karya terbaik dalam bentuk aforisme sufistik.

Akhir-akhir ini saya merasakan getaran2 itu. Saya merasakan kedekatan-Nya..dan yakin: haqqul yakin bahwa Tuhan,Alloh itu memang ada. Sesuatu yg TRANSENDEN DAN IMANEN/immanen.
JSH
Bandung. Ramadhan ke 16
Dalam suasana stay at home Covid19.
9 May 2020.

Thursday, May 7, 2020

Lampung: the Javanese Province

Lampung: The Javanese Province
By: Jousairi Hasbullah

Lampung province is unique. The Lampung people or ethnic group is not the largest ethnic group in its own province. Although Javanese is rank one in several provinces outside Java Island, but the domination of Javanese in Lampung is of much more signigicant.

Javanese ethnic group is the largest and most significant-dominated ethnic group in Lampung contributing 64.06 persen. This is due to the fact that Lampung was the first destination of transmigrants..in which people were moved away from the crowded island of Java.
The Lampung ethnic group were only the second largest..and the gap is very sharp. The Lampung ethnic were only 13.54 percent to the total population of Lampung province.

I give you the composition of ethnic group in Lampung province from the result of 2010 Indonesia Population Census.
1. Javanese 4.856 805 or 64.06 %
2. Lampung 1 026 693 or 13.54 %
3. Sundanese 728 715 or 9.61%
4.Bantenese 172 371 or 2.27%
5. Malay 161 030 or 2.12%
6. Palembang 144 513 or 1.91%
7.Ogan 106 669 or 1.41%
8.Balinese 104 606 or 1.38%
9.Minangkabau 69652 or 0.92%
10. Batak 52 311 or 0.69%
11.Other 158 584 or 2.09%
Total 7.581.948 or 100.0%

By adding Sundanese and Bantenese ( originally from island of Java) to the Javanese..the ethnic group originated from the island of Java residing in Lampung consists of more than three quarters of the total population of Lampung. If we add all ethnics other than Lampung ethnic, this is very interesting one. 86 persen of Lampung people are not Lampung ethnic.

JSH
In the moment of staying at home due to the Covid19.
Bandung 7 May 2020.

Wednesday, May 6, 2020

West Java and East Java: Comparision

West Java and East Java: Comparison
By: Jousairi Hasbullah.

There are two largest provinces in Indonesia today, namely Java Tumur and West Java. In terms of population, West Java is very prominent. Its population reaches 49 316 712 people. Nearly 50 million people. This means, one province of West Java is equivalent to twice the population of the country of Australia (25 milions) or three times the population of the Netherlands (17 million) or eleven times the population of New Zealand (4.8 million).

The population of East Java who occupies the second position amounts to 40 million (39.7 milions). It is also very large, equivalent to the population of the large country of Argentina (43 millions).

West Java province is relatively more prosperous than East Java. The poor population of West Java in September 2019 was 6.82 percent compared to East Java which was 10.20 percent.
West Java's Life Expectancy (Eo) 2019 is 72.85 higher than East Java's 71.18. Also reflected in the figures of the Human Development Indexs (HDI). West Java HDI reaches 72.03 while East Java of 71.50.

From the economic side. East Java is much larger achievement in term of GRDP compare to West Java. The GRDP of East Java of 2 352.4 trillions rupiahs in 2019. While the figures of West Java in 2019 reached 2.125.2 trillion rupiahs. These two figures calculated using the current price. It means the valuation made on goods and services at the current years'price. In term of Economic Growth 2019, East Java of 5.52 percent was higher compared to West Java of 5.07 percent.

From these indicators used above. It is clear that from the demographic and social point of view, West Java province is larger and in some cases better than East Java. But from the economic-accumulation point of view, East Java is larger than West Java. Also..number of villages in East Java of 8 501 villages outstripped number of West Java villages of 5957 according to the last Village Potensial Census ( Podes) 2018.

JSH
In the Mid of 2020 Ramadhan.
Bandung..14th of Ramadhan 6 May 2020
In the situation of misery of stay at home due to Covid19. 

Poverty in East Java and Indonesia

Poverty in East in Java and Indonesia
By: Jousairi Hasbullah

I do want to start our discussion with someting general, simple..very simple related to poverty. What I am going to say is that the efforts to reduce poverty must be accompanied by a good understanding of what povertuly means. If there is a gap between policies to reduce poverty and a correct understanding of the concept and measurements, it is very likely that the results will be different from what is expected.

Measuring poverty in Indonesia and applied to all provinces and district as well, the concept being used is monetary. Poverty is the lack of income in the form of money to maintain the basic level of household expenditure. As we know, out of 84 developing countries, according to the inventories of the United Nations Statistics Divisions, more than 50 percent countries are using the expenditure approach for consupmtion, 30 percent countries use the income approach, and the rest are combination of the two.

In determining whether someone is poor or not, what is used is the amount of money to purchase the food consisting the minimum amount of calories ( 2100 kcalories) per day plus the most basic of non-food needs. This amount of money is then used to set the poverty line. Below the line, the population is classified as poor. What is the result? I just want to give you the figures. It is of your challenges to give meaning to the figures below..a very simple example:
Poverty (%) East Java      Indonesia
1999                 29,47           23,40
2000                 22,77           19,14
2004                 20,08           16,70
2005                 19,95           15,97
2008                 18,51           15,40
2010                 15,26           13,30
2011                 14.23           12,49
2013 Mar        12,55           11,36
2016 Maret     12,05           10,86
2017 Maret     11,77           10 64
2019 Maret     10,37            9,41
2019Septmber10,20           9,22

Twenty years ago, the gap of the poverty rate between East Java and National figures was very wide of around 6 percent. But now the gap become narrower of only around 1 percent. It means the speed of poverty reduction in east Java better compared to national average.

Using these sets of data does not mean simply publishing the figures and then debating them. To use the data in meaningful way, one must understand the concept, definition, measurement method and characteristics in the data.

JSH
Ramadhan 14. 6 May 2020.
In the moment of stay at home. Covid19.

Sekelumit Jawa Timur

Sekelumit Jawa Timur
Oleh: Jousairi Hasbullah

Tahun 750an kerajaan Syailendra mengganti kerajaan Mataram kuno yg diperintah oleh dinasti Sanjaya. Sanjaya ditaklukkan oleh Syailendra. Raja Syailendra terkenal bernama Samarottungga yang membangun candi Borobudur. Samarottungga digantikan oleh putra dari selir: Balaputra Dewa. Terjadi perebutan kekuasaan dg Pramodhawardhani ( anak dari permaisuri). Balaputradewa mengalami kekalahan lalu pindah ke Palembang membangun kerajaan Sriwijaya.

Kerajaan mataram yang kalah, pindah ke Jawa Timur. Berdirilah kerajaan Medang Kamulan dengan rajanya Mpu Sindok. Inilah cikal bakal kerajaan-kerajaan besar di Jawa Timur. Medang Kamulan terbagi dua: Jenggala dan Kediri. Kediri memiliki raja terkenal yaitu Jayabaya. Muncul kemudian kerajaan Singosari yg berpusat di Malang diperintah oleh Ken Arok.

Puncak kejayaan Singosari ketika dipimpin oleh Kertanegara yg kemudian dibunuh oleh Jayakatwang. Ponakan Kertanegara: Raden Wijaya lari ke Sumenep. Raja Sumenep Arya Wiraraja memberikan lahan di desa Tarik, Trowulan, Mojokerto kepada Raden Wijaya yang kemudian mendirikan Kerajaan Mojopahit. Raja pertama: Rd Wijaya-Tribuana Tungga Dewi-Hayam Wuruk. Raja terakhir: Brawijaya.

Cerita ringkas sejarah selesai.
Mari meloncat ke cerita penduduk Jawa Timur. Begini:
Jumlah Penduduk Jatim:
1. 1802 : 1 267 700
2. 1815: 1 629 628
3. 1860: 4 532 666
4. 1900: 10 281 453
5. 1920: 12 470 079
6. 1930: 14 810 754
7. 1961: 21 823 020
8. 1971: 25 516 999
9. 1980: 29 188 852
10.1990: 32 503 991
11. 2000: 34 783 640
12.2010: 37 565 706
13.2019 : 39 698 631

Data penduduk ini sangat penting. Memperlihatkan stok SDM yang tersedia. Penduduk Jatim no 2 tertinggi di Indonesia setelah Jawa Barat  yg mencapai 49 316 712 jiwa.

Demikian. Sekadar cuplikan kecil untukmu.
JSH
Ramadhan. 7 Mai 2020 saat PSBB Covid19.

Religion and Ethnicity



By: Jousairi Hasbullah

Religions

In Indonesia, there are at least 8 original religions. Sundanese wiwitan, Kejawen, Marapu, Buhun, Kaharingan, Ugamo Malim, Tolotang and Madrais. But only 6 official religions are recognized. What is their population?

Data on religious adherents in Indonesia can be obtained from administrative records (KTP) and from the Population Census. In both sources it lists and or cultivates only official religions: Islam, Protestantism, Catholicism, Hinduism, Buddhism and Konghuchu. In the Population Census (last census in 2010) actually respondents are free to include whatever religion they profess. But never processed one by one. Only the total number can be seen.

In 2010, the total number of adherents of religion other than 6 officially recognized religions: 296 979 people. That may be the population of the eight native religions mentioned and several other native religions plus Judaism.

Ethnicity
From another side, ethnicity is rather complicated. We used to have, in my records, around 1340 tribes in Indonesia. The last census recorded was 633 tribes. Many tribes no longer have members. Lost. Even, out of the 633 ethnics, 85 percent are the 15 biggest ethnicity. As many as 99.07 percent are only from 145 ethnics. That is, the other ethnics are very small in number. The 15 largest ethnics today: population and percentage of total population are:

(In Bahasa: juta means millions)
1. Jawa 95 juta org.40.1%
2. Sunda 37 juta 15.5 %
3. Melayu 8,8 juta 3.7%
4.Batak 8,5 juta 3,6%
5.Madura 7,2 juta 3.03 %
6.Betawi 6,8 juta 2,9%
7.Minang 6.4 juta 2 7%
8.Bugis 6,4 juta 2 71%
9.Banten 4,6 juta 1.96%
10.Banjar 4.1 juta 1,7%
11.Bali 3,9 juta 1.66%
12.Aceh 3,4 juta 1,44%
13.Dayak 3,2 juta 1,36%
14.Sasak 3.1 juta 1,34%
15.Tionghoa 2,8 jt 1,20%
...
41.Komering 370 ribu org 0,16 % saja😄😄suku ku.
..
145. Atingola 6 090 members only.

Note: 1. In DATA COLLECTION, the technique of classifying ethnicity is not purely Anthropology, but with Ethno Demographic technique: self declaration / self identification. 2. Chinese population if on the basis of anthropological is much bigger. By using the ethno-demographic method, Chineses who have tens of generations do not consider as Chinese but as Javanese or other to which he is affiliated with culture / assimilation.
3. Betawi always increase faster ... because people who have lived for generations in Jakarta, have identified themselves as Betawi.
Ethnodemography: fluid concept. JSH 6 Mai 2020.

Sunday, April 26, 2020

Ketergantungan

Ketergantungan
Oleh: Jousairi Hasbullah

 Saya dalam banyak hal setuju dg isi tulisan yg mengulas bhw US bukan lg masa depan. Trend dunia mengarah ke Tiongkok. Dan secara implisit mengidealkan bhw kedekatan dg Tiongkok sbg keniscayaan.

Tentang hal ini, perlu hati2. Jika terlalu tergantung akan sangat tidak menguntungkan.. Kita tak bisa lagi terlalu berkiblat ke Amerika. Investasi Amerika, impor barang2 Amerika ( US)..ekspor pun sangat bergantung ke pasar US. Akibatnya, US bisa seenaknya mendikte kita. Tetapi juga tidak harus menggeser ketergantungan yg berlebihan dari Amerika ke Tiongkok. Bahwasanya Tiongkok menjadi partner yg baik. Ya wajar saja. Posisi yg paling pas, menurut saya, kita berteman dan bekerja sama dg semua. Ya Amerika, ya Tiongkok, ya Jepang-Korea, ya India, ya Uni Eropa dan tentu saja yg juga the emerging ekonomi saat ini: Afrika.

Saat ini ada ketimpangan yg sangat menyolok dan agak berbahaya. Kita terlalu bias ke Amerika dan Tiongkok. Jika terjadi sesuatu bencana dg kedua negara ini: kita akan ikut menderita. Contohnya, pasar ekspor kita. Ke satu negara US saja, melebihi seluruh ekspor ke semua negara Uni Eropa. Ke Tiongkok lbh dominan lg. Sktr 50 persen ekspor dari Indonesia hanya ke 5 negara saja: Tiongkok, US, Jepang, India dan Korsel. Afrika yg total penduduknya sama besar dg India belum tertarik menjadi pasar produk Indonesia. Padahal potensinya luar biasa. Juga Rusia, Amerika Latin, Turki, Timur Tengah dan lain-lain.

Impor lbh menghawatirkan. Ngeri lihat pola konsentrasinya. Bukan volumenya tp ketergantungan kita hanya pada sedikit negara. Total impor barang MODAL kita sebesar 36 persen hanya dari SATU negara yaitu Tiongkok saja. Untuk bahan baku seperempatnya berasal dari Tiongkok saja. Artinya pabrik2 kita akan hancur kalau Tiongkok menyetop bahan baku. Pembangunan Infrastruktur akan stop kalau Tiongkok tdk mensuplai barang modal terutama Baja-related. Ini kurang sehat. Tiongkok menguasai suplai/pasokan barang modal ke Indonesia mendakati angka 40 persen dari total impor barang modal kita. US sendiri hanya memasok senilai 6 persen saja dari total barang modal ke Indonesia. Korea 5 persen. India bahkan hanya 3 persen. Dominasi Tiongkok terlalu tinggi yg mengakibatkan kebutuhan pembangunan kita sangat tergantung pada suplai dari mereka.

Yg "antiq/unique" bukan hanya bahan baku dan bahan modal..Impor sayur2an kita TERBESAR dari Tiongkok. Impor terbesar buah2an kita bukan dari Thailand tp juga dari Tiongkok. Sangat mendominasi.


Gimana sikap Pak Jokowi? Kebetulan sy dulu pernah tau dikit2. "Saya BERSAKSI" pak Jokowi itu udah naik darah..Kesalnya bukan main. Beliau minta ketidakseimbangan itu segera dikoreksi. Makanya berkali-kali beliau ngamuk ke jajaran Kemendag yg masih malu2 untuk membuka peluang2 baru scra signikan dg Timur Tengah, Afrika, Amerika Latin, Asia timur lainnya dll dll..Kemendag bgt sabar-pelan2..hingga ketergantungan kita pd Tiongkok: "terlalu deh"..dan hingga hari ini belum bisa terkoreksi.

Intinya..persoalan ini sama sekali bukan dan tidak bisa dimirip-miripkan seperti Ronaldo meninggalkan MU ke Madrid untuk membangun dirinya. Kita tak boleh terlalu tergantung baik ke MU maupun ke Madrid..Kita perlu melakukan diversifikasi yg luas..dg varian yg kecil ( tidak ads yg outlier) Keseimbangan antara US, Tiongkok, Asia Timur lainnya, India, Turki, Rusia, Timur Tengah dan Afrika..baik ekspor maupun impor kita..termasuk Investasi yg ditanam di Indonesia, adalah keharusan jika kita ingin lebih mandiri..lbh kuat dan merdeka dari intimidasi negara tertentu.

Sambil menjelang BERBUKA puasa hari kedua.
Bandung. 25 April 2020
Jousairi Hasbullah

Friday, April 17, 2020

COVID19 dan Peradaban BARU

Covid19:
Membangun Peradaban Baru
Oleh: Jousairi Hasbullah

Raja Saudi menutup Masjidil Haram. Masjid Nabawi. Ulama Al Azhar teriak: tutup. Tutup tempat ibadahmu. Paus menutup Vatican. Seluruh dunia mengikuti. Ada ulama-ulama bernalar sempit di Africa dan Asia Selatan yg ngeyel tapi kemudian gagap sendiri. Mereka baru sadar bahwa ulama-ulama terkemuka dunia mulai gregetan melihat ketololan sempurna mereka. Lalu ulama-ulama besar dunia trrsebut mengajarkan penggunaan akal sehat anugerah Alloh. Menggantikan paham yg menyebut bahwa kalau mau mati ya mati. Mati di tangan Alloh. Taglig.

Kaum taglig ini, mempersonifikasikan Alloh seperti manusia yg bawa pentungan. Kalau si A sore ini harus mati ya pentung. Mati. Padahal yg takdir ketentuan Alloh itu adalah hasil dari ikhtiar manusia. The end result-nya adalah takdir.
Maka Umar bin khottab mengurungkan niatnya memasuki Damaskus yg sedang terserang wabah. Umar mencari takdir yang lain. Umar tidak mengatakan saya berani maju. Urusan mati ditangan Tuhan. Nabi Muhammad melarang orang yg berpenyakit kusta mendekati Beliau. Nabi tidak mengatakan: " Sini. Urusan mati itu di tangan Tuhan"..tetapi justru Nabi menghindar agar takdirnya selamat dari tertular penyakit kusta.

Covid19 menghentak dan menyadarkan semua orang. Menggugat dakwah-dakwah yg biasa kita dengar bahwa urusan mati sudah given. Takut lah kepada Alloh. Jangan takut pada korona. Justru yang benar kita takut dan menghindari korona karena Nabi mengajarkan agar kita tidak menabrak bahaya.

Covid19 harus menjadi titik tolak perubahan mendasar peradaban ummat. Harus muncul masa pencerahan baru.
Renaisance baru. Mengembangkan gerakan budaya yang lebih rasional. Diikuti oleh gerakan Aufklärung baru. Manusia yang fact-based. Evidence-based. Manusia berakal, berkarya dengan capaian yang mengagumkan.
Tahapan ini pun harus bergandeng dengan Positivisme Logis atau disebut sebagai Empirisme Logis, mirip gerakan filosofis yang muncul di Wina pada 1920-an. Postulasinya bahwa pengetahuan ilmiah adalah satu-satunya jenis pengetahuan faktual ( fact based). Seyogyanya semua doktrin metafisik tradisional yang hanya membawa pada kebodohan, keterbelakangan dan bertentangan dengan kehendak Alloh itu sendiri: harus disingkirkan

Covid19 semoga membawa kita ke peradaban baru yg rasional dan dengan iman yg lebih merefleksikan insan yang berkualitas. Agama dengan akal sehat terus berkembang menopang berkembangnya PERADABAN BARU INDONESIA.

Bandung 17 April 2020
Jousairi Hadbullah

Sunday, March 29, 2020


LOCK DOWN Jakarta?
Jousairi Hasbullah

Sebelum me-Lock Down Jakarta. Coba kita lihat fakta2 ini.

Jakarta saat ini penduduknya 10.6 juta jiwa. Itu hanya ukuran administratif. Jakarta sebagai kota telah menyatu dg Bodetabek. Tanpa ada pemisahan. Nyatu. SATU. Jabodetabek+karawang itu satu. Me lockdown jkt tanpa me-lockdown Bodebek+karawang..gimana ceritanya. Orang udah jadi satu. Itu sama halnya me-lockdown kecamatan Keramat Jati sedangkan kecamatan samping2nya tidak. Jakarta Great Metropolitan Areas= Jabodetabek+karawang.

Penduduk JABODETABEKplus saat ini ( awal 2020) berjumlah: 37 juta jiwa. Hidup di satu kota raya Jabodetabekplus. Jumlah penduduk Satu kota Jabodetabek ini SAMA dg jumlah penduduk 5 negara tetangga ( Australia 25 jt+ New Zealand: 4.8 jt + Singapore: 5.7 jt+Timor Leste: 1.3 jt+Brunei 430 ribu jiwa = 37. 2 juta.SAMA dg penduduk Jabodetabek..dan Jabodetabek lbh besar dari Greater New Delhi..lebih besar dari New York..lebih besar dari Tokyo dan lbh kompleks) Kalau ada pihak2 yg ngak ketahanan mau me-Lock Down ya monggo..tapi untuk Jabodetabek saja..coba titik tolaknya: guna kan dulu data jumlah penduduk tsb..37 juta jiwa saling berputar mencari nafkah di ruang sempit-padat Jabodetabek: ada pemulung, pedagang asongan, buruh kasar, buruh toko dll dll..Sebelum kajiannya melompat ke yg lain.

Atau isu Lock Down itu sekadar politik akal bulus. Busuk. Terelubung. Agar kaum marginal berontak krn lapar. Lalu gampang memprovokasi mereka untuk melakukan penjarahan dg isu sara. Mengembangkan emosi kebencian pada etnik Tionghoa lalu bangsa chaos..itu yg diinginkan? Cukup kejadian di 1998. Jangan terulang. Mari kiya bangun persaudaraan..bahu membahu untuk kekuatan bersama. Kita NKRI. Dan Pak Jokowi telah berbuat sungguh2 untuk bangsa ini.
Jousairi Hasbullah
Maret 2020.

Monday, March 16, 2020

Jebakan Lockdown: Waspada

Hati-hati dengan Usulan Lockdown terkait Virus Corona.
(Jousairi Hasbullah)

Beberapa pihak menginginkan pemerintah RI melaksanakan kebijakan lockdown untuk mencegah menyebarnya virus corona.
Lock down adalah tindakan darurat, sementara waktu. Penduduk dicegah melakukan mobilitas ke luar lingkungannya dan atau masuk ke lingungan lain. Dilarang memasuki atau meninggalkan area atau bangunan yang telah ditentukan selama ancaman bahaya berlangsung.
Contoh lockdown: meliburkan sekolah, dilarang: bepergian, beraktivitas di area publik, dll demi mencegah penyebaran virus. China telah melock down sebagian wilayahnya. Italy dan Denmark untuk seluruh wilayah negara.

China me-lockdown provinsi Hubei dan beberapa wilayah lainnya. Menunjukkan tanda2 sukses. Melakukan lockdown membutuh kan biaya besar.Tapi bagi China denga cadangan devisa sekitar US $ 3115 milyar ( maret 2020). Berapapun besarnya biaya, China masih mampu membayarnya.

Indonesia memiliki cadangan devisa US $ 127 milyar ( awal 2020) yg berarti hanya 1/25 cadangan devisa China. Kekuatan China 25 kalilipat. Padahal penduduknya hanya 4 kalilipat kita. Dengan dominasi sektor informal yg luar biasa besar di Indonesia, jelas pemerintah tak akan mampu membiayainya.

Bisa dibayangkan, kita punya 70, 5 juta orang yg bekerja di sektor informal. Dari mana mereka memperoleh uang, kalau Indonesia dilockdown. Jumlah penduduk miskin kita 24, 8 juta jiwa ditambah yg sedikit ke luar dari kemiskinan tapi mendekati garis kemiskinan total menjadi 100 juta orang. Mereka bekerja hari ini untuk makan hari ini. Tak ada saving. Bayangkan kalau mereka distop beraktifitas ekonomi di keramaian selama dua minggu saja. Mereka akan mati kelaparan.

Dampak sosialnya akan luar biasa. Chaos di mana2 dan itulah kesempatan besar bagi mereka, para PENGHIANAT BANGSA, yg menginginkan kehancuran NKRI. Mereka akan tampil bak penyelamat rakyat. Menjatuhkan pemerintah yg sah. Memberangus para pemilik modal dari kelompok minoritas agar bangsa jadi kacau. Untuk kemudian semakin menghancurkan negeri tercinta: Indonesia. Bagi saya keutuhan NKRI dan hidup saling memajukan adalah kekuatan masa depan KITA.
Jousairi Hadbullah
Maret 2020
( JSH. Bandung.16 Maret 2020)

Friday, July 13, 2018

About Social Capital

Jousairi Hasbullah:
There are at least two broad basic premises of social capital. First, social capital covers connections, networks, interactions, and reciprocity. The second, the quality of the first is shaped by norms, values, expectations and trust.
There are also two broad dimensions of social capital. 1. Bonding social capital which is characterized by exclusive orientation of individual or group behavior. 2. Bridging social capital which is inclusive.

Definition of social capital varies between experts. Some experts define social capital as connections among individuals, social networks and the norms of reciprocity and trustworthiness that arise from them (civic virtue). Civic virtue is most powerful when embedded in a sense network of reciprocal social relations (Robert D Putnam, 2000)

Another expert argue, social capital refers to the institutions, relationship, and norms that shape the quality and quantity of society's social interactions. It is not just the sums of institutions but that is a glue that bind them together.
Social capital consists of the stock of active connections among people: the trust,mutual understanding and shared values and behaviors that bind the members of human networks and communities and make cooperative action possible (Cohen and Prusak,2001)
Why It is Important?
Social capital allow citizens to resolve collective problems more easily. It also allow community to advance smoothly where people are trusting and trustworthy everyday business and transactions are less costly. Social capital embodied in norms and networks of civic engagements which can push economic development. If social capital increase, more cohesive, the experience of many countries the incidence of crime will decrease. If the degree of social capital low, people will cooperate in joint actions only under formal rules and regulations.
This is only a very brief and basic information regarding social capital.   If the readers in Indonesia want to learn more detail related to concept, dimensions and spectrum of social capital,  you can read the first book available in  Indonesia written by Jousairi Hasbullah under the title " social capital: menuju keunggulan budaya manusia Indonesia.
Jousairi Hasbullah
JSHcenter.Bandung July 2018.

Thursday, July 12, 2018

The Philosophy of Statistics

Jousairi Hssbullah:
Those of you, the reader of the title of this aeticle  may ask what is the need to talk about philosophy of statistics ( read as statistical data). If you ask like that, it means you are still constrained by the oldway of thinking that statistics are merely a collection of complicated and difficult mathemstical formulas.

Formulas is important. There are no statistics without formulas to measure volumes, trends and relationship between variables. But, the formula alone is not enough. The current modern statistics require a deep interpretation of each data presented. Data meaning, that is what is needed by data users, by stakeholders, by the public.

To deal with the meaning of the data is great fun and all official statistician should like it. It would be more interested if you understand the deepest philosophy of the statistics itself.

To enhance our underdtanding of statistics philosophycally, I like to quote of what Florence Nightingle said: " to understand God's thought, we must study statistics, for these were the measure of His purposes.

What actually statistics are? Statistics define as a body of method for making wise decisions in the face of uncertainty ( WA Wilis). Prof Stephen Sen said that the world of Statistics mostly or much more in common dealing with philosophy than it does with accounting.

If we talk about the power of statistics, it is the power to explain, to explain the reality objectively. Technology has brought remarkable progress in the society but at the same time people love things superficial, quick, verbal language  and loves issues that are not supported by scientific evidences or statistical data. Public becomes more impulsive, freedom of conscience becomes the liberty of abusive, defamatory and seditious.
In this such situation of the world, statistics should and must play a role in restoring freedom of speech sustained by the ability to speak, give ideas and asess things with data, quality data.

With data will make the conversation, discussion, dialog more honest. With data of sheep's weasel behavior ( Een vos verliest  wel zijn haren, maar niet zijn streken) will be reduced. With data, the betrayal of the intelectuals ( la trahision des cleres) will also be minimize. With data, humanbeing can see the world more beautifully ( per excellenza)

World needs a new culture, culture of evidence based in order to make human being of more wise, peaceful and love.

Jousairi Hasbullah
JSHcenter. Bandung July 2018.



Al Ghazali dan Kemunduran Umat

 Tentang Al Ghazali Oleh: Jousairi Hasbullah Tentang kemunduran Islam yg kita rasakan sampai saat ini, dalam pemahaman saya terkait dua h...