Poverty in East in Java and Indonesia
By: Jousairi Hasbullah
I do want to start our discussion with someting general, simple..very simple related to poverty. What I am going to say is that the efforts to reduce poverty must be accompanied by a good understanding of what povertuly means. If there is a gap between policies to reduce poverty and a correct understanding of the concept and measurements, it is very likely that the results will be different from what is expected.
Measuring poverty in Indonesia and applied to all provinces and district as well, the concept being used is monetary. Poverty is the lack of income in the form of money to maintain the basic level of household expenditure. As we know, out of 84 developing countries, according to the inventories of the United Nations Statistics Divisions, more than 50 percent countries are using the expenditure approach for consupmtion, 30 percent countries use the income approach, and the rest are combination of the two.
In determining whether someone is poor or not, what is used is the amount of money to purchase the food consisting the minimum amount of calories ( 2100 kcalories) per day plus the most basic of non-food needs. This amount of money is then used to set the poverty line. Below the line, the population is classified as poor. What is the result? I just want to give you the figures. It is of your challenges to give meaning to the figures below..a very simple example:
Poverty (%) East Java Indonesia
1999 29,47 23,40
2000 22,77 19,14
2004 20,08 16,70
2005 19,95 15,97
2008 18,51 15,40
2010 15,26 13,30
2011 14.23 12,49
2013 Mar 12,55 11,36
2016 Maret 12,05 10,86
2017 Maret 11,77 10 64
2019 Maret 10,37 9,41
2019Septmber10,20 9,22
Twenty years ago, the gap of the poverty rate between East Java and National figures was very wide of around 6 percent. But now the gap become narrower of only around 1 percent. It means the speed of poverty reduction in east Java better compared to national average.
Using these sets of data does not mean simply publishing the figures and then debating them. To use the data in meaningful way, one must understand the concept, definition, measurement method and characteristics in the data.
JSH
Ramadhan 14. 6 May 2020.
In the moment of stay at home. Covid19.
Wednesday, May 6, 2020
Sekelumit Jawa Timur
Sekelumit Jawa Timur
Oleh: Jousairi Hasbullah
Tahun 750an kerajaan Syailendra mengganti kerajaan Mataram kuno yg diperintah oleh dinasti Sanjaya. Sanjaya ditaklukkan oleh Syailendra. Raja Syailendra terkenal bernama Samarottungga yang membangun candi Borobudur. Samarottungga digantikan oleh putra dari selir: Balaputra Dewa. Terjadi perebutan kekuasaan dg Pramodhawardhani ( anak dari permaisuri). Balaputradewa mengalami kekalahan lalu pindah ke Palembang membangun kerajaan Sriwijaya.
Kerajaan mataram yang kalah, pindah ke Jawa Timur. Berdirilah kerajaan Medang Kamulan dengan rajanya Mpu Sindok. Inilah cikal bakal kerajaan-kerajaan besar di Jawa Timur. Medang Kamulan terbagi dua: Jenggala dan Kediri. Kediri memiliki raja terkenal yaitu Jayabaya. Muncul kemudian kerajaan Singosari yg berpusat di Malang diperintah oleh Ken Arok.
Puncak kejayaan Singosari ketika dipimpin oleh Kertanegara yg kemudian dibunuh oleh Jayakatwang. Ponakan Kertanegara: Raden Wijaya lari ke Sumenep. Raja Sumenep Arya Wiraraja memberikan lahan di desa Tarik, Trowulan, Mojokerto kepada Raden Wijaya yang kemudian mendirikan Kerajaan Mojopahit. Raja pertama: Rd Wijaya-Tribuana Tungga Dewi-Hayam Wuruk. Raja terakhir: Brawijaya.
Cerita ringkas sejarah selesai.
Mari meloncat ke cerita penduduk Jawa Timur. Begini:
Jumlah Penduduk Jatim:
1. 1802 : 1 267 700
2. 1815: 1 629 628
3. 1860: 4 532 666
4. 1900: 10 281 453
5. 1920: 12 470 079
6. 1930: 14 810 754
7. 1961: 21 823 020
8. 1971: 25 516 999
9. 1980: 29 188 852
10.1990: 32 503 991
11. 2000: 34 783 640
12.2010: 37 565 706
13.2019 : 39 698 631
Data penduduk ini sangat penting. Memperlihatkan stok SDM yang tersedia. Penduduk Jatim no 2 tertinggi di Indonesia setelah Jawa Barat yg mencapai 49 316 712 jiwa.
Demikian. Sekadar cuplikan kecil untukmu.
JSH
Ramadhan. 7 Mai 2020 saat PSBB Covid19.
Oleh: Jousairi Hasbullah
Tahun 750an kerajaan Syailendra mengganti kerajaan Mataram kuno yg diperintah oleh dinasti Sanjaya. Sanjaya ditaklukkan oleh Syailendra. Raja Syailendra terkenal bernama Samarottungga yang membangun candi Borobudur. Samarottungga digantikan oleh putra dari selir: Balaputra Dewa. Terjadi perebutan kekuasaan dg Pramodhawardhani ( anak dari permaisuri). Balaputradewa mengalami kekalahan lalu pindah ke Palembang membangun kerajaan Sriwijaya.
Kerajaan mataram yang kalah, pindah ke Jawa Timur. Berdirilah kerajaan Medang Kamulan dengan rajanya Mpu Sindok. Inilah cikal bakal kerajaan-kerajaan besar di Jawa Timur. Medang Kamulan terbagi dua: Jenggala dan Kediri. Kediri memiliki raja terkenal yaitu Jayabaya. Muncul kemudian kerajaan Singosari yg berpusat di Malang diperintah oleh Ken Arok.
Puncak kejayaan Singosari ketika dipimpin oleh Kertanegara yg kemudian dibunuh oleh Jayakatwang. Ponakan Kertanegara: Raden Wijaya lari ke Sumenep. Raja Sumenep Arya Wiraraja memberikan lahan di desa Tarik, Trowulan, Mojokerto kepada Raden Wijaya yang kemudian mendirikan Kerajaan Mojopahit. Raja pertama: Rd Wijaya-Tribuana Tungga Dewi-Hayam Wuruk. Raja terakhir: Brawijaya.
Cerita ringkas sejarah selesai.
Mari meloncat ke cerita penduduk Jawa Timur. Begini:
Jumlah Penduduk Jatim:
1. 1802 : 1 267 700
2. 1815: 1 629 628
3. 1860: 4 532 666
4. 1900: 10 281 453
5. 1920: 12 470 079
6. 1930: 14 810 754
7. 1961: 21 823 020
8. 1971: 25 516 999
9. 1980: 29 188 852
10.1990: 32 503 991
11. 2000: 34 783 640
12.2010: 37 565 706
13.2019 : 39 698 631
Data penduduk ini sangat penting. Memperlihatkan stok SDM yang tersedia. Penduduk Jatim no 2 tertinggi di Indonesia setelah Jawa Barat yg mencapai 49 316 712 jiwa.
Demikian. Sekadar cuplikan kecil untukmu.
JSH
Ramadhan. 7 Mai 2020 saat PSBB Covid19.
Religion and Ethnicity
By: Jousairi Hasbullah
Religions
In Indonesia, there are at least 8 original religions. Sundanese wiwitan, Kejawen, Marapu, Buhun, Kaharingan, Ugamo Malim, Tolotang and Madrais. But only 6 official religions are recognized. What is their population?
Data on religious adherents in Indonesia can be obtained from administrative records (KTP) and from the Population Census. In both sources it lists and or cultivates only official religions: Islam, Protestantism, Catholicism, Hinduism, Buddhism and Konghuchu. In the Population Census (last census in 2010) actually respondents are free to include whatever religion they profess. But never processed one by one. Only the total number can be seen.
In 2010, the total number of adherents of religion other than 6 officially recognized religions: 296 979 people. That may be the population of the eight native religions mentioned and several other native religions plus Judaism.
Ethnicity
From another side, ethnicity is rather complicated. We used to have, in my records, around 1340 tribes in Indonesia. The last census recorded was 633 tribes. Many tribes no longer have members. Lost. Even, out of the 633 ethnics, 85 percent are the 15 biggest ethnicity. As many as 99.07 percent are only from 145 ethnics. That is, the other ethnics are very small in number. The 15 largest ethnics today: population and percentage of total population are:
(In Bahasa: juta means millions)
1. Jawa 95 juta org.40.1%
2. Sunda 37 juta 15.5 %
3. Melayu 8,8 juta 3.7%
4.Batak 8,5 juta 3,6%
5.Madura 7,2 juta 3.03 %
6.Betawi 6,8 juta 2,9%
7.Minang 6.4 juta 2 7%
8.Bugis 6,4 juta 2 71%
9.Banten 4,6 juta 1.96%
10.Banjar 4.1 juta 1,7%
11.Bali 3,9 juta 1.66%
12.Aceh 3,4 juta 1,44%
13.Dayak 3,2 juta 1,36%
14.Sasak 3.1 juta 1,34%
15.Tionghoa 2,8 jt 1,20%
...
41.Komering 370 ribu org 0,16 % saja😄😄suku ku.
..
145. Atingola 6 090 members only.
Note: 1. In DATA COLLECTION, the technique of classifying ethnicity is not purely Anthropology, but with Ethno Demographic technique: self declaration / self identification. 2. Chinese population if on the basis of anthropological is much bigger. By using the ethno-demographic method, Chineses who have tens of generations do not consider as Chinese but as Javanese or other to which he is affiliated with culture / assimilation.
3. Betawi always increase faster ... because people who have lived for generations in Jakarta, have identified themselves as Betawi.
Ethnodemography: fluid concept. JSH 6 Mai 2020.
Sunday, April 26, 2020
Ketergantungan
Ketergantungan
Oleh: Jousairi Hasbullah
Saya dalam banyak hal setuju dg isi tulisan yg mengulas bhw US bukan lg masa depan. Trend dunia mengarah ke Tiongkok. Dan secara implisit mengidealkan bhw kedekatan dg Tiongkok sbg keniscayaan.
Tentang hal ini, perlu hati2. Jika terlalu tergantung akan sangat tidak menguntungkan.. Kita tak bisa lagi terlalu berkiblat ke Amerika. Investasi Amerika, impor barang2 Amerika ( US)..ekspor pun sangat bergantung ke pasar US. Akibatnya, US bisa seenaknya mendikte kita. Tetapi juga tidak harus menggeser ketergantungan yg berlebihan dari Amerika ke Tiongkok. Bahwasanya Tiongkok menjadi partner yg baik. Ya wajar saja. Posisi yg paling pas, menurut saya, kita berteman dan bekerja sama dg semua. Ya Amerika, ya Tiongkok, ya Jepang-Korea, ya India, ya Uni Eropa dan tentu saja yg juga the emerging ekonomi saat ini: Afrika.
Saat ini ada ketimpangan yg sangat menyolok dan agak berbahaya. Kita terlalu bias ke Amerika dan Tiongkok. Jika terjadi sesuatu bencana dg kedua negara ini: kita akan ikut menderita. Contohnya, pasar ekspor kita. Ke satu negara US saja, melebihi seluruh ekspor ke semua negara Uni Eropa. Ke Tiongkok lbh dominan lg. Sktr 50 persen ekspor dari Indonesia hanya ke 5 negara saja: Tiongkok, US, Jepang, India dan Korsel. Afrika yg total penduduknya sama besar dg India belum tertarik menjadi pasar produk Indonesia. Padahal potensinya luar biasa. Juga Rusia, Amerika Latin, Turki, Timur Tengah dan lain-lain.
Impor lbh menghawatirkan. Ngeri lihat pola konsentrasinya. Bukan volumenya tp ketergantungan kita hanya pada sedikit negara. Total impor barang MODAL kita sebesar 36 persen hanya dari SATU negara yaitu Tiongkok saja. Untuk bahan baku seperempatnya berasal dari Tiongkok saja. Artinya pabrik2 kita akan hancur kalau Tiongkok menyetop bahan baku. Pembangunan Infrastruktur akan stop kalau Tiongkok tdk mensuplai barang modal terutama Baja-related. Ini kurang sehat. Tiongkok menguasai suplai/pasokan barang modal ke Indonesia mendakati angka 40 persen dari total impor barang modal kita. US sendiri hanya memasok senilai 6 persen saja dari total barang modal ke Indonesia. Korea 5 persen. India bahkan hanya 3 persen. Dominasi Tiongkok terlalu tinggi yg mengakibatkan kebutuhan pembangunan kita sangat tergantung pada suplai dari mereka.
Yg "antiq/unique" bukan hanya bahan baku dan bahan modal..Impor sayur2an kita TERBESAR dari Tiongkok. Impor terbesar buah2an kita bukan dari Thailand tp juga dari Tiongkok. Sangat mendominasi.
Gimana sikap Pak Jokowi? Kebetulan sy dulu pernah tau dikit2. "Saya BERSAKSI" pak Jokowi itu udah naik darah..Kesalnya bukan main. Beliau minta ketidakseimbangan itu segera dikoreksi. Makanya berkali-kali beliau ngamuk ke jajaran Kemendag yg masih malu2 untuk membuka peluang2 baru scra signikan dg Timur Tengah, Afrika, Amerika Latin, Asia timur lainnya dll dll..Kemendag bgt sabar-pelan2..hingga ketergantungan kita pd Tiongkok: "terlalu deh"..dan hingga hari ini belum bisa terkoreksi.
Intinya..persoalan ini sama sekali bukan dan tidak bisa dimirip-miripkan seperti Ronaldo meninggalkan MU ke Madrid untuk membangun dirinya. Kita tak boleh terlalu tergantung baik ke MU maupun ke Madrid..Kita perlu melakukan diversifikasi yg luas..dg varian yg kecil ( tidak ads yg outlier) Keseimbangan antara US, Tiongkok, Asia Timur lainnya, India, Turki, Rusia, Timur Tengah dan Afrika..baik ekspor maupun impor kita..termasuk Investasi yg ditanam di Indonesia, adalah keharusan jika kita ingin lebih mandiri..lbh kuat dan merdeka dari intimidasi negara tertentu.
Sambil menjelang BERBUKA puasa hari kedua.
Bandung. 25 April 2020
Jousairi Hasbullah
Oleh: Jousairi Hasbullah
Saya dalam banyak hal setuju dg isi tulisan yg mengulas bhw US bukan lg masa depan. Trend dunia mengarah ke Tiongkok. Dan secara implisit mengidealkan bhw kedekatan dg Tiongkok sbg keniscayaan.
Tentang hal ini, perlu hati2. Jika terlalu tergantung akan sangat tidak menguntungkan.. Kita tak bisa lagi terlalu berkiblat ke Amerika. Investasi Amerika, impor barang2 Amerika ( US)..ekspor pun sangat bergantung ke pasar US. Akibatnya, US bisa seenaknya mendikte kita. Tetapi juga tidak harus menggeser ketergantungan yg berlebihan dari Amerika ke Tiongkok. Bahwasanya Tiongkok menjadi partner yg baik. Ya wajar saja. Posisi yg paling pas, menurut saya, kita berteman dan bekerja sama dg semua. Ya Amerika, ya Tiongkok, ya Jepang-Korea, ya India, ya Uni Eropa dan tentu saja yg juga the emerging ekonomi saat ini: Afrika.
Saat ini ada ketimpangan yg sangat menyolok dan agak berbahaya. Kita terlalu bias ke Amerika dan Tiongkok. Jika terjadi sesuatu bencana dg kedua negara ini: kita akan ikut menderita. Contohnya, pasar ekspor kita. Ke satu negara US saja, melebihi seluruh ekspor ke semua negara Uni Eropa. Ke Tiongkok lbh dominan lg. Sktr 50 persen ekspor dari Indonesia hanya ke 5 negara saja: Tiongkok, US, Jepang, India dan Korsel. Afrika yg total penduduknya sama besar dg India belum tertarik menjadi pasar produk Indonesia. Padahal potensinya luar biasa. Juga Rusia, Amerika Latin, Turki, Timur Tengah dan lain-lain.
Impor lbh menghawatirkan. Ngeri lihat pola konsentrasinya. Bukan volumenya tp ketergantungan kita hanya pada sedikit negara. Total impor barang MODAL kita sebesar 36 persen hanya dari SATU negara yaitu Tiongkok saja. Untuk bahan baku seperempatnya berasal dari Tiongkok saja. Artinya pabrik2 kita akan hancur kalau Tiongkok menyetop bahan baku. Pembangunan Infrastruktur akan stop kalau Tiongkok tdk mensuplai barang modal terutama Baja-related. Ini kurang sehat. Tiongkok menguasai suplai/pasokan barang modal ke Indonesia mendakati angka 40 persen dari total impor barang modal kita. US sendiri hanya memasok senilai 6 persen saja dari total barang modal ke Indonesia. Korea 5 persen. India bahkan hanya 3 persen. Dominasi Tiongkok terlalu tinggi yg mengakibatkan kebutuhan pembangunan kita sangat tergantung pada suplai dari mereka.
Yg "antiq/unique" bukan hanya bahan baku dan bahan modal..Impor sayur2an kita TERBESAR dari Tiongkok. Impor terbesar buah2an kita bukan dari Thailand tp juga dari Tiongkok. Sangat mendominasi.
Gimana sikap Pak Jokowi? Kebetulan sy dulu pernah tau dikit2. "Saya BERSAKSI" pak Jokowi itu udah naik darah..Kesalnya bukan main. Beliau minta ketidakseimbangan itu segera dikoreksi. Makanya berkali-kali beliau ngamuk ke jajaran Kemendag yg masih malu2 untuk membuka peluang2 baru scra signikan dg Timur Tengah, Afrika, Amerika Latin, Asia timur lainnya dll dll..Kemendag bgt sabar-pelan2..hingga ketergantungan kita pd Tiongkok: "terlalu deh"..dan hingga hari ini belum bisa terkoreksi.
Intinya..persoalan ini sama sekali bukan dan tidak bisa dimirip-miripkan seperti Ronaldo meninggalkan MU ke Madrid untuk membangun dirinya. Kita tak boleh terlalu tergantung baik ke MU maupun ke Madrid..Kita perlu melakukan diversifikasi yg luas..dg varian yg kecil ( tidak ads yg outlier) Keseimbangan antara US, Tiongkok, Asia Timur lainnya, India, Turki, Rusia, Timur Tengah dan Afrika..baik ekspor maupun impor kita..termasuk Investasi yg ditanam di Indonesia, adalah keharusan jika kita ingin lebih mandiri..lbh kuat dan merdeka dari intimidasi negara tertentu.
Sambil menjelang BERBUKA puasa hari kedua.
Bandung. 25 April 2020
Jousairi Hasbullah
Friday, April 17, 2020
COVID19 dan Peradaban BARU
Covid19:
Membangun Peradaban Baru
Oleh: Jousairi Hasbullah
Raja Saudi menutup Masjidil Haram. Masjid Nabawi. Ulama Al Azhar teriak: tutup. Tutup tempat ibadahmu. Paus menutup Vatican. Seluruh dunia mengikuti. Ada ulama-ulama bernalar sempit di Africa dan Asia Selatan yg ngeyel tapi kemudian gagap sendiri. Mereka baru sadar bahwa ulama-ulama terkemuka dunia mulai gregetan melihat ketololan sempurna mereka. Lalu ulama-ulama besar dunia trrsebut mengajarkan penggunaan akal sehat anugerah Alloh. Menggantikan paham yg menyebut bahwa kalau mau mati ya mati. Mati di tangan Alloh. Taglig.
Kaum taglig ini, mempersonifikasikan Alloh seperti manusia yg bawa pentungan. Kalau si A sore ini harus mati ya pentung. Mati. Padahal yg takdir ketentuan Alloh itu adalah hasil dari ikhtiar manusia. The end result-nya adalah takdir.
Maka Umar bin khottab mengurungkan niatnya memasuki Damaskus yg sedang terserang wabah. Umar mencari takdir yang lain. Umar tidak mengatakan saya berani maju. Urusan mati ditangan Tuhan. Nabi Muhammad melarang orang yg berpenyakit kusta mendekati Beliau. Nabi tidak mengatakan: " Sini. Urusan mati itu di tangan Tuhan"..tetapi justru Nabi menghindar agar takdirnya selamat dari tertular penyakit kusta.
Covid19 menghentak dan menyadarkan semua orang. Menggugat dakwah-dakwah yg biasa kita dengar bahwa urusan mati sudah given. Takut lah kepada Alloh. Jangan takut pada korona. Justru yang benar kita takut dan menghindari korona karena Nabi mengajarkan agar kita tidak menabrak bahaya.
Covid19 harus menjadi titik tolak perubahan mendasar peradaban ummat. Harus muncul masa pencerahan baru.
Renaisance baru. Mengembangkan gerakan budaya yang lebih rasional. Diikuti oleh gerakan Aufklärung baru. Manusia yang fact-based. Evidence-based. Manusia berakal, berkarya dengan capaian yang mengagumkan.
Tahapan ini pun harus bergandeng dengan Positivisme Logis atau disebut sebagai Empirisme Logis, mirip gerakan filosofis yang muncul di Wina pada 1920-an. Postulasinya bahwa pengetahuan ilmiah adalah satu-satunya jenis pengetahuan faktual ( fact based). Seyogyanya semua doktrin metafisik tradisional yang hanya membawa pada kebodohan, keterbelakangan dan bertentangan dengan kehendak Alloh itu sendiri: harus disingkirkan
Covid19 semoga membawa kita ke peradaban baru yg rasional dan dengan iman yg lebih merefleksikan insan yang berkualitas. Agama dengan akal sehat terus berkembang menopang berkembangnya PERADABAN BARU INDONESIA.
Bandung 17 April 2020
Jousairi Hadbullah
Membangun Peradaban Baru
Oleh: Jousairi Hasbullah
Raja Saudi menutup Masjidil Haram. Masjid Nabawi. Ulama Al Azhar teriak: tutup. Tutup tempat ibadahmu. Paus menutup Vatican. Seluruh dunia mengikuti. Ada ulama-ulama bernalar sempit di Africa dan Asia Selatan yg ngeyel tapi kemudian gagap sendiri. Mereka baru sadar bahwa ulama-ulama terkemuka dunia mulai gregetan melihat ketololan sempurna mereka. Lalu ulama-ulama besar dunia trrsebut mengajarkan penggunaan akal sehat anugerah Alloh. Menggantikan paham yg menyebut bahwa kalau mau mati ya mati. Mati di tangan Alloh. Taglig.
Kaum taglig ini, mempersonifikasikan Alloh seperti manusia yg bawa pentungan. Kalau si A sore ini harus mati ya pentung. Mati. Padahal yg takdir ketentuan Alloh itu adalah hasil dari ikhtiar manusia. The end result-nya adalah takdir.
Maka Umar bin khottab mengurungkan niatnya memasuki Damaskus yg sedang terserang wabah. Umar mencari takdir yang lain. Umar tidak mengatakan saya berani maju. Urusan mati ditangan Tuhan. Nabi Muhammad melarang orang yg berpenyakit kusta mendekati Beliau. Nabi tidak mengatakan: " Sini. Urusan mati itu di tangan Tuhan"..tetapi justru Nabi menghindar agar takdirnya selamat dari tertular penyakit kusta.
Covid19 menghentak dan menyadarkan semua orang. Menggugat dakwah-dakwah yg biasa kita dengar bahwa urusan mati sudah given. Takut lah kepada Alloh. Jangan takut pada korona. Justru yang benar kita takut dan menghindari korona karena Nabi mengajarkan agar kita tidak menabrak bahaya.
Covid19 harus menjadi titik tolak perubahan mendasar peradaban ummat. Harus muncul masa pencerahan baru.
Renaisance baru. Mengembangkan gerakan budaya yang lebih rasional. Diikuti oleh gerakan Aufklärung baru. Manusia yang fact-based. Evidence-based. Manusia berakal, berkarya dengan capaian yang mengagumkan.
Tahapan ini pun harus bergandeng dengan Positivisme Logis atau disebut sebagai Empirisme Logis, mirip gerakan filosofis yang muncul di Wina pada 1920-an. Postulasinya bahwa pengetahuan ilmiah adalah satu-satunya jenis pengetahuan faktual ( fact based). Seyogyanya semua doktrin metafisik tradisional yang hanya membawa pada kebodohan, keterbelakangan dan bertentangan dengan kehendak Alloh itu sendiri: harus disingkirkan
Covid19 semoga membawa kita ke peradaban baru yg rasional dan dengan iman yg lebih merefleksikan insan yang berkualitas. Agama dengan akal sehat terus berkembang menopang berkembangnya PERADABAN BARU INDONESIA.
Bandung 17 April 2020
Jousairi Hadbullah
Sunday, March 29, 2020
LOCK DOWN Jakarta?
Jousairi Hasbullah
Sebelum me-Lock Down Jakarta. Coba kita lihat fakta2 ini.
Jakarta saat ini penduduknya 10.6 juta jiwa. Itu hanya ukuran administratif. Jakarta sebagai kota telah menyatu dg Bodetabek. Tanpa ada pemisahan. Nyatu. SATU. Jabodetabek+karawang itu satu. Me lockdown jkt tanpa me-lockdown Bodebek+karawang..gimana ceritanya. Orang udah jadi satu. Itu sama halnya me-lockdown kecamatan Keramat Jati sedangkan kecamatan samping2nya tidak. Jakarta Great Metropolitan Areas= Jabodetabek+karawang.
Penduduk JABODETABEKplus saat ini ( awal 2020) berjumlah: 37 juta jiwa. Hidup di satu kota raya Jabodetabekplus. Jumlah penduduk Satu kota Jabodetabek ini SAMA dg jumlah penduduk 5 negara tetangga ( Australia 25 jt+ New Zealand: 4.8 jt + Singapore: 5.7 jt+Timor Leste: 1.3 jt+Brunei 430 ribu jiwa = 37. 2 juta.SAMA dg penduduk Jabodetabek..dan Jabodetabek lbh besar dari Greater New Delhi..lebih besar dari New York..lebih besar dari Tokyo dan lbh kompleks) Kalau ada pihak2 yg ngak ketahanan mau me-Lock Down ya monggo..tapi untuk Jabodetabek saja..coba titik tolaknya: guna kan dulu data jumlah penduduk tsb..37 juta jiwa saling berputar mencari nafkah di ruang sempit-padat Jabodetabek: ada pemulung, pedagang asongan, buruh kasar, buruh toko dll dll..Sebelum kajiannya melompat ke yg lain.
Atau isu Lock Down itu sekadar politik akal bulus. Busuk. Terelubung. Agar kaum marginal berontak krn lapar. Lalu gampang memprovokasi mereka untuk melakukan penjarahan dg isu sara. Mengembangkan emosi kebencian pada etnik Tionghoa lalu bangsa chaos..itu yg diinginkan? Cukup kejadian di 1998. Jangan terulang. Mari kiya bangun persaudaraan..bahu membahu untuk kekuatan bersama. Kita NKRI. Dan Pak Jokowi telah berbuat sungguh2 untuk bangsa ini.
Jousairi Hasbullah
Maret 2020.
Monday, March 16, 2020
Jebakan Lockdown: Waspada
Hati-hati dengan Usulan Lockdown terkait Virus Corona.
(Jousairi Hasbullah)
Beberapa pihak menginginkan pemerintah RI melaksanakan kebijakan lockdown untuk mencegah menyebarnya virus corona.
Lock down adalah tindakan darurat, sementara waktu. Penduduk dicegah melakukan mobilitas ke luar lingkungannya dan atau masuk ke lingungan lain. Dilarang memasuki atau meninggalkan area atau bangunan yang telah ditentukan selama ancaman bahaya berlangsung.
Contoh lockdown: meliburkan sekolah, dilarang: bepergian, beraktivitas di area publik, dll demi mencegah penyebaran virus. China telah melock down sebagian wilayahnya. Italy dan Denmark untuk seluruh wilayah negara.
China me-lockdown provinsi Hubei dan beberapa wilayah lainnya. Menunjukkan tanda2 sukses. Melakukan lockdown membutuh kan biaya besar.Tapi bagi China denga cadangan devisa sekitar US $ 3115 milyar ( maret 2020). Berapapun besarnya biaya, China masih mampu membayarnya.
Indonesia memiliki cadangan devisa US $ 127 milyar ( awal 2020) yg berarti hanya 1/25 cadangan devisa China. Kekuatan China 25 kalilipat. Padahal penduduknya hanya 4 kalilipat kita. Dengan dominasi sektor informal yg luar biasa besar di Indonesia, jelas pemerintah tak akan mampu membiayainya.
Bisa dibayangkan, kita punya 70, 5 juta orang yg bekerja di sektor informal. Dari mana mereka memperoleh uang, kalau Indonesia dilockdown. Jumlah penduduk miskin kita 24, 8 juta jiwa ditambah yg sedikit ke luar dari kemiskinan tapi mendekati garis kemiskinan total menjadi 100 juta orang. Mereka bekerja hari ini untuk makan hari ini. Tak ada saving. Bayangkan kalau mereka distop beraktifitas ekonomi di keramaian selama dua minggu saja. Mereka akan mati kelaparan.
Dampak sosialnya akan luar biasa. Chaos di mana2 dan itulah kesempatan besar bagi mereka, para PENGHIANAT BANGSA, yg menginginkan kehancuran NKRI. Mereka akan tampil bak penyelamat rakyat. Menjatuhkan pemerintah yg sah. Memberangus para pemilik modal dari kelompok minoritas agar bangsa jadi kacau. Untuk kemudian semakin menghancurkan negeri tercinta: Indonesia. Bagi saya keutuhan NKRI dan hidup saling memajukan adalah kekuatan masa depan KITA.
Jousairi Hadbullah
Maret 2020
( JSH. Bandung.16 Maret 2020)
(Jousairi Hasbullah)
Beberapa pihak menginginkan pemerintah RI melaksanakan kebijakan lockdown untuk mencegah menyebarnya virus corona.
Lock down adalah tindakan darurat, sementara waktu. Penduduk dicegah melakukan mobilitas ke luar lingkungannya dan atau masuk ke lingungan lain. Dilarang memasuki atau meninggalkan area atau bangunan yang telah ditentukan selama ancaman bahaya berlangsung.
Contoh lockdown: meliburkan sekolah, dilarang: bepergian, beraktivitas di area publik, dll demi mencegah penyebaran virus. China telah melock down sebagian wilayahnya. Italy dan Denmark untuk seluruh wilayah negara.
China me-lockdown provinsi Hubei dan beberapa wilayah lainnya. Menunjukkan tanda2 sukses. Melakukan lockdown membutuh kan biaya besar.Tapi bagi China denga cadangan devisa sekitar US $ 3115 milyar ( maret 2020). Berapapun besarnya biaya, China masih mampu membayarnya.
Indonesia memiliki cadangan devisa US $ 127 milyar ( awal 2020) yg berarti hanya 1/25 cadangan devisa China. Kekuatan China 25 kalilipat. Padahal penduduknya hanya 4 kalilipat kita. Dengan dominasi sektor informal yg luar biasa besar di Indonesia, jelas pemerintah tak akan mampu membiayainya.
Bisa dibayangkan, kita punya 70, 5 juta orang yg bekerja di sektor informal. Dari mana mereka memperoleh uang, kalau Indonesia dilockdown. Jumlah penduduk miskin kita 24, 8 juta jiwa ditambah yg sedikit ke luar dari kemiskinan tapi mendekati garis kemiskinan total menjadi 100 juta orang. Mereka bekerja hari ini untuk makan hari ini. Tak ada saving. Bayangkan kalau mereka distop beraktifitas ekonomi di keramaian selama dua minggu saja. Mereka akan mati kelaparan.
Dampak sosialnya akan luar biasa. Chaos di mana2 dan itulah kesempatan besar bagi mereka, para PENGHIANAT BANGSA, yg menginginkan kehancuran NKRI. Mereka akan tampil bak penyelamat rakyat. Menjatuhkan pemerintah yg sah. Memberangus para pemilik modal dari kelompok minoritas agar bangsa jadi kacau. Untuk kemudian semakin menghancurkan negeri tercinta: Indonesia. Bagi saya keutuhan NKRI dan hidup saling memajukan adalah kekuatan masa depan KITA.
Jousairi Hadbullah
Maret 2020
( JSH. Bandung.16 Maret 2020)
Subscribe to:
Posts (Atom)
Al Ghazali dan Kemunduran Umat
Tentang Al Ghazali Oleh: Jousairi Hasbullah Tentang kemunduran Islam yg kita rasakan sampai saat ini, dalam pemahaman saya terkait dua h...
-
Jousairi Hasbullah: All statistician in the world who involve in the production of official statistics must be aware of their (our) new rol...
-
Kisruh Data untuk Bantuan terkait Covid19. Oleh: Jousairi Hasbullah Soal DATA kok jadi kisruh begini? Karena kita tau data tapi nggak pah...
-
Jousairi Hasbullah: In the Asia-Pacific Region there are still many statistical office which are not fucntionally independent. They are suf...